Meninggalnya
Saat Bersujud
Assallammualaikum WR.WB
PERNAKAH mendengar sahabat Nabi yang dikenal
dengan sebutan Abu Tsa`labah Al-Khusyna??
Ada kisah menarik
berkaitan dengannya. Suatu hari ia membicarakan kematian pada rekan-rekannya, “Sesungguhnya aku benar-benar menginginkan Allah
mematikanku tidak seperti mematikan kebanyakan kalian.”
Kematian dengan
cara apa gerangan yang diinginkan oleh Abu Tsa`labah? Dalam kitab Siyarul A`lam an-Nubala` karya
Imam ad-Dzahabi disebutkan bahwa Abu Tsa`labah berharap pada Allah Subhanahu
Wata’ala agar ia dimatikan dalam kondisi sujud. Apakah permintaannya
dikabulkan?
Rupanya Allah
mengabulkannya. Ketika ia sedang menunaikan shalat malam (Qiyamul
Lail), ia meninggal dalam kondisi sujud.
Suatu malam,
putrinya bermimpi bahwa ayahnya telah meninggal, seketika itu juga ia bangun.
Lantas ia panggil ibunya:
“Di mana ayah,
bu?”
“Ayahmu di
mushallah”
Segera putrinya memanggil
Abu Tsa`labah, tetapi Abu Tsa`labah sama sekali tak menjawabnya. Berbegas ia
bangunkan ayahnya namun apa yang didapat? Ternyata ayahnya sudah
meninggal dunia dalam keadaan bersujud.
Maha Besar
Allah. Alangkah bahagianya Abu Tsa`labah meninggal dunia sesuai dengan
apa yang diinginkannya. Kelak ketika Hari Kebangkitan tiba, ia akan
dibangkitkan dalam kondisi sujud. Ia telah mendapatkan khusnul khatimah (akhir –kematian-
yang baik) di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala.
***
Kematian merupakan sebuah kemestian. Siapa saja dan apa
saja pasti akan mendapatkan pergiliran datangnya kematian. Baik orang beragama
maupun tidak beragama sekalipun. Kematian menggambarkan akhir dari titik
perjuangan dunia. Kematian merupakan detik-detik yang menentukan seseorang akan
mendapat penghargaan apa kehinaan. Sangat jarang orang yang bermimpi bagaimana
seharusnya kelak ia mati, karena yang terbayang jika disebut kata ‘kematian’
yang ada di benaknya hanyalah rasa takut dan ngeri. Padahal pada batas tertentu
manusia diberi kemudahan Allah Subhanahu Wata’ala memperisiapak jauh hari
dalam kondisi apa dan bagaimana kita akan mengahiri hidup ini. Hanya saja, yang
tak kalah penting, kematian berkaitan dengan takdir Allah Subhanahu
Wata’ala.
Manusia hanya bisa
berdoa pada Allah agar bisa dimatikan dalam kondisi yang terbaik. Sebagai
Muslim tentu saja menginginkan mati dalam kondisi khusnul
khatimah (akhir
yang baik). Supaya kematian tidak hanya sekadar sebagai sesuatu yang menakutkan
dan mengerikan, maka kematian seharusnya dijadikan sebagai ‘kesadaran diri’.
Setiap kali melakukan sesuatu hendaknya dipikir terlebih dahulu bahwa apa yang
dilakukan ada kaitannya dengan kematian terbaiknya? Alangkah indahnya jika kita
mati dalam kondisi syahid, di mana banyak sekali yang
mengantar jenazah kita ke pemakaman dengan derai air mata kehilangan. Laiknya
ulama-ulama besar semacam Ibnu Taimiyah, Ibnu Al-Jauzi, Ibnu Qayyim, Ibnu Hajar
dan lain sebagainya yang diantarkan oleh beribu-ribu orang. Coba kita luangkan
waktu sejenak untuk melihat pada lembaran sejarah emas sahabat Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Mereka
merupak generasi yang sama sekali tidak takut mati. Mereka punya pendirian:
“Mengapa kita takut mati sedangkan kematian itu pasti, yang terpenting
ialah apa yang kita persiapkan sebelum kematian datang.”
Maka jangan heran jika pada lembaran sejarah emas mereka
banyak didapati orang yang bukan hanya tak takut sama mati, namun menjadikan
kematian sebagai kerinduan; menjadikan kematian sebagai pelipur lara dunia yang
sungguh fana. Di antara mereka sangat rindu dengan kematian. Bukan sekadar
kematian tapi kematian yang luar biasa yaitu mati ‘syahid’.Sebagian orang
berharap bisa mati di medan perang (Syahid Fi
Sabilillah). Ada yang ingin mati ketika berdakwah, ada yang ingin mati
ketika bersama Rasulullah, ada yang ingin mati di majelis ilmu. Kesemuanya
terangkum dalam ‘mati syahid’. Mereka hanya bisa merencanakan kematian, tetapi
yang menentukan hanyalah Allah Subhanahu Wata’ala. Khalid bin Walid misalnya,
ia sangat mendabakan mati syahid di medan jihad, dan berpuluh-puluh peperangan
yang ia ikuti dan mendapat kemengan gemilang, namun ternyata ia mati bukan di
medan perang tapi di ranjang. Abu Bakar pun mati dalam kondisi sakit di
ranjang. Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thali mati dibunuh
musuh. Apapun dan bagaimanapun cara kematiannya, mereka sepakat untuk
mendambakan ‘mati syahid’, sehingga mati dalam kondisi apapun asalkan ada
niatan untuk mendapat kesyahidan maka itu adalah impian ideal.
Khusnul Khatimah
Setelah membaca
kisah-kisah sahabat Nabi berkaitan dengan kematian, lantas apakah kita akan
menyikapi kematian sebagaimana kebanyakan orang?
Kebanyakan orang
sangat takut mati. Padahal kalau dihadapi dengan ketakutan maka orang akan
semakin berusaha melupakan dan menjauhinya. Orang yang takut mati, disebut Nabi
telah dijangkiti penyakit wahn sebagaimana.
Wahn adalah
cinta dunia dan takut mati.
Semakin otang
takut mati maka ia akan menjauhi kematian dan akan semakin cinta dunia, semakin
dunia dicintai maka orang akan semakin malas untuk mempersiapkan bekal
kematian.
Muslim yang cerdas
akan merencanakan, mempersiapkan, berdoa sedemikian rupa untuk menghadapi
datangnya mati. Sedangkan Muslim yang dungu ia selalu mengikuti hawa nafsu
sehingga takut pada kematian bahkan lupa untuk mempersiapkan amal ketika ia
tiba.
Kesadaran akan
kematian, dan perencanaan akan kematian akan berpengaruh besar pada langkah
hidup kita menuju kematian khusnul
khatimah. Kematian yang didambakan setiap orang ketika dijemput malakul maut (malaikat maut) menuju
kehidupan yang abadi. Akhir yang baik merupakan titik final dan penentuan untuk
mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Semoga
kita semua dimatikan Allah dan kelak menghadapNya dengan keadaan akhir yang
terbaik (khusnul Khatimah).Wallahu a`lam bis shawab.
Sumber: www.hidayatullah.com








0 comments:
Post a Comment