Assallammualaikum
WR.WB
Apakah Dosa itu dan bagaimana cara menghilangkannya.
Umat Islam dengan dosanya meyakini bahwa dosa manusia sudah ditebus dengan do’anya.
Manusia terlalu kotor dan tidak mampu menghilangkannya dengan kekuatan sendiri,
hanya dengan Berdoa yang bisa menebus segala kesalahan. Tetapi Islam tidak
mengajarkan konsep penebusan dosa tersebut tetapi Islam mengajarkan dosa bisa
dihilangkan dengan tobat. Allah
menciptakan manusia tidak hanya diberikan segala kemampuan jasmaniah melainkan
telah dilengkapi juga kekuatan rohaniah, termasuk ketika dia berdosa manusia
sebenarnya telah diberi kemampuan untuk bangkit, dengan bertobat dan menebusnya
dengan kebaikan yang lebih banyak.
Hakikat dosa bukanlah bahwa Allah menciptakan dosa lalu kemudian
sesudah ribuan tahun baru terpikir oleh-Nya untuk pengampunan dosa, tidak ;
tetapi sebagaimana lalat memiliki dua sayap, di satu sayapnya terdapat penawar
dan di sebelahnya terdapat racun, demikian pula pada manusia ada dua 'sayap'
satu sayap maksiat dan yang satu lagi sayap penyesalan.
Tobat merupakan bukti perasaan menyesal. Ini sudah merupakan
kaidah umum bahwa jika seseorang memukul orang lain maka sesudahnya ia akan menyesal
dan merasa bersalah, seolah-olah kedua sayapnya mengepak secara bersamaan,
yaitu ketika racun beraksi terdapat pula antidotnya. Kini pertanyaannya adalah
mengapa dosa itu dibuat, mengapa manusia tidak diciptakan saja menjadi suci
semua tanpa cela sebagaimana pikiran orang-orang Kristen. Jawabannya adalah
kendatipun ia racun namun karena terdapat sifat mematahkan di dalamnya, maka ia
memiliki fungsi sebagai penawar. Racun juga apabila sudah melalui sebuah proses
maka itu akan berfungsi sebagai obat. Dari racun-racun seperti itu banyak
sekali diramu menjadi obat-obatan. Dari suatu kesalahan seorang dapat belajar
sehingga menjadi insan yang lebih kuat, yang lebih awas.
Jika tidak ada dosa maka akan muncul racun yang lain, yaitu racun keangkuhan yang dengan itu akan menghancurkan manusia. Jadi tobat akan
berfungsi menghilangkannya. Tobat akan menghindarkan manusia dari bahaya
takabur dan ujub.
Bertobat Dengan Memperbanyak Istighfar
Sebagai seorang mukmin mestilah
kita memperbanyak istighfar dan tobat kepada Allah. Jika satu sayap sudah
mengepak, artinya kita telah diperingatkan untuk kembali kepada Allah meminta
ampun, dan selanjutnya memperbaiki kesalahan dengan tidak mengulanginya dan
menggantinya dengan kebaikan-kebaikan yang baru. Jika junjungan kita yang Mulia
Nabi Muhammad saw saja masih beristighfar setidaknya 70 kali sehari, maka
apalagi kita yang seharusnya melakukan lebih banyak lagi. Tobat itu tidak
berarti hanya berlaku kepada orang yang pada saat itu melakukan dosa, tetapi
tobat juga belaku untuk setiap kondisi sebagai penghadang dari potensi dosa
yang bisa saja terjadi kemudian hari. Ia akan menjadi pelindung, yaitu kita
yang mengenali dosa itu sebagai dosa maka ia akan lebih berhati-hati untuk
menjauhi dosa tersebut.
Jika kita dengan kesungguhan hati
menangis memohon ampunan kepada Allah, maka Allah dengan sifat Ghofurnya akan
memaafkan kita. Seseorang yang terus beristighfar maka hatinya akan melihat
dosa itu sebagai suatu hal yang jijik dan ia tidak ingin
mendekatinya. Secara alami umat Islam telah tertanam rasa jijik akan
daging babi, padahal ribuan perbuatan lainnya yang kotor tetap saja dilakukan.
Jadi hikmahnya adalah Allah telah meletakkan contoh rasa jijik dan rasa tidak
suka kepada daging babi, maka rasa itu jugalah yang harus ditumbuhkan kepada
setiap perbuatan dosa. Dan hal itu bisa dilakukan dengan tobat dan memperbanyak
istighfar. Jika dalam diri manusia telah tertanam rasa benci pada dosa dan
kemudia mengayunkan langkahnya kepada perbaikan diri, maka lama kelamaan segenap
keburukannya akan menjauh.
Yakinlah bahwa di dalam tobat
terdapat buah-buah yang berlimpah. Ini merupakan sumber mata air keberkatan.
Pada hakikatnya para wali dan orang-orang saleh adalah mereka yang bertobat dan
kemudian mereka terus istiqomah dalam tobatnya. Oleh karena itu kita harus
tingkatkan tobat kita kita jadikanlah amal kita mendatangkan ridho sang Pemilik
kita. Ingatlah bahwa hukuman dari kekeliruan akidah kita akan diputuskan di
akhirat nanti, keputusan menjadi orang Hindu atau Kristen atau menjadi orang
Islam. Tetapi orang yang aniaya yang bergelimang dosa dan pelanggaran, di dunia
ini juga ia akan mendapatkan hukuman.
Sabda Nabi saw berikut kiranya dapat menjadikan kita hamba-hamba
yang bertobat dan memperbaiki diri.
"Allah lebih senang kepada orang yang bertobat daripada
orang yang haus menemukan air, orang yang mandul lalu punya anak, dan orang
yang tersesat lalu menemukan jalan. Dan barangsiapa bertobat kepada Allah
dengan tobat yang baik, maka Allah membuat lupa dua malaikat yang mengawasi amal
tersebut (Rakid dan Atid), seluruh anggota badannya, dan tempat dalam tanah
(kubur) terhadap kesalahan-kesalahan orang yang tobat dan dosa-dosanya."
(HR Ibnu Abbas)
Semoga Allah menerima tobat kita.
Dikutip Oleh : Arya Firmansyah.
sumber foto :
sumber :








0 comments:
Post a Comment